Selasa, 24 Desember 2019

Delicious-creepypasta

Assalamu'alaikum wr. wb.

Up lagii~


☆☆☆☆☆

Aku ingin bertanya kepada kalian. Apa di tempat kalian tinggal, kalian memiliki tetangga? Ah, pertanyaan macam apa yang aku tanyakan ini? Hahaha

Tapi aku serius. Sebenarnya, aku bukanlah orang yang suka dengan keramaian. Itu membuatku sedikit emosional.

Dan sepertinya para tetangga juga tak terlalu peduli dengan sikapku. Mereka hanya akan membicarakan pendapat mereka tentangku kepada teman teman mereka. Membicarakan sesuatu yang buruk pastinya.

Selama ini mereka menganggap diriku adalah teroris atau bahkan pembunuh berantai, tapi itu tidak benar. Aku hanya gadis yang suka memasak makanan berbahan daging, kau tahu.

Tapi ada yang berubah. Sejak ada keluarga yang pindah ke rumah sebelah, kebiasaanku jadi berubah. Entah keberanian apa yang dimilikinya, tapi salah satu anak perempuan dari keluarga tersebut dengan sumringah dan ada sesuatu di tangannya datang dan berdiri di depan pintu rumahku.

Yah, meskipun aku tak suka bergaul. Tapi aku masih mengerti bagaimana memperlakukan seorang tamu, meski aku tak ingin menerimanya. Meski tak menutupi jika aku tak suka diganggu.

1

2

3

'Ting! Tong!'  Sudah kuduga.

Aku pun berjalan menuju pintu dan membuka pintu tersebut. Yang pertama kali kulihat adalah wajahnya yang selalu menunjukkan senyum yang lebar. Tidak kah dia lelah?

Aku hanya memasang wajah datar dan menunggu dia mengutarakan niatnya datang ke rumahku dan mengacaukan hari ku.

"Hai! Aku Novi, salam kenal! Aku tetangga barumu, dan kami tinggal tepat di sebelah rumahmu" ujarnya dengan sangat antusias, dan membuatku sedikit terganggu. Dia cerewet dan berisik. Aku benci itu.

"Ya, lalu?" Aku pun bertanya tujuannya, meski aku sudah bisa menebaknya.

"Aku kesini untuk menyapa tetangga baru dan juga memberikan sedikit makanan untuk di berikan!" Ujar nya dan menyerahkan sebuah kotak berwarna kuning pastel.

"Ah, terimakasih" jawabku ingin menutup pintu saat gadis itu hendak pergi. Dan kemudian aku teringat, jika nanti aku harus mengembalikan kotak ini.

"Tunggu!" Aku memanggilnya untuk mengembalikan kotak tersebut. Tapi tentu aku harus mengisinya dengan sesuatu dulu. Akan aku pikirkan.

Gadis itu berbalik dan menatapku seakan bertanya 'ada apa?'

"Bisa kau bawa sekalian kotaknya? Aku tidak ada waktu untuk mengembalikannya ke rumahmu" ucapku. Ini adalah kalimat terpanjang saat aku berbicara dengan orang lain.

"Baiklah" ujarnya dan kemudian berjalan mendekat dan duduk di kursi depan.

Aku berjalan menuju dapur untuk mengeluarkan makanan darinya tadi dan menggantinya. Membuka lemari pendingin dan menemukan steak yang aku buat tadi pagi. Aku memilih menggantinya dengan steak itu. Setelah kurasa cukup, aku pun segera berjalan ke depan dan memberikan kotak itu. Setelahnya dia pergi.

Aku kembali ke dapur untuk mencicipi masakan darinya tadi. Memasukkan sepotong daging ke dalan mulutku. Euh...

Daging sapi.

Hufftt... Aku tak menyukai rasa dari daging biasa. Aku memilih membuangnya di tempat sampah yang ada di sebelahku. Memilih untuk mengambil daging di kulkas dan mengolahnya untuk makan siang sebentar lagi.

16:46 

Aku sedang bersantai ditemani cemilan yang ku beli kemarin malam. Fokus ke film thriller sampai suara bel rumahku berbunyi.

"Shit! Pengganggu" umpatku pelan saat melihat tetangga baru itu sedang berdiri di depan pintu, menungguku membuka pintu.

Aku pun membuka pintu tersebut dan langsung melihat wajah sumringah gadis itu. Aku hanya menatapnya datar, berharap dia segera pergi.

"Hai lagi! Apa kabar? Oh iya, aku belum mengetahui namamu?" Ujarnya dengan ceria. Aku muak melihatnya.

"Kill" sahutku singkat. Aku terlalu malas untuk meladeni orang yang cerewet.

"Oh Kill? Nama yang unik! Dan oh ya, aku ingin bertanya. Daging apa yang kau gunakan untuk steak yang kau kerikan padaku tadi siang? Rasanya sangat enak. Tidak keras dan rasanya gurih. Apakah daging babi?" Tanyanya panjang lebar. Aku tersenyum miring tanpa dia ketahui.

"Kau mau masuk? Akan kuberi tahu daging apa itu" ujarku sedikit membuka jalan untuknya yang mengangguk. Aku berjalan menuju dapur dan gadis itu mengikutiku.

"Duduklah di meja makan. Sebentar lagi akan aku beritahu" ujarku masih mempertahankan senyum miring yang tak dapat dia lihat.

Aku mengambil pisau tajam yang tadi sudah ku asah. Berjalan mendekatinya dan berdiri di belakangnya. Mengarahkan pisau tersebut pada lehernya.

"A-apa yang k-kau lakukan??" Tanyanya dengan suara bergetar ketakutan. Aku suka momen seperti ini. Aku menenangkannya dengan berkata......

"Kau bilang ingin tahu, daging apa yang ku buat steak"

☆☆☆☆☆

End~

Selesai deh ceritanya. Semoga suka. Kalo kurang sadis, bilang yah:')

Sekian, wassalamu'alaikum wr. wb.

Hide and seek-creepypasta

Assalamu'alaikum wr. wb.

Untuk blog ini, aku mau nyoba buat cerita creepypasta.

Kalian pasti gak asing kan, sama lagu ding dong? 

Aku saranin kalian denger lagu itu kalo ada. Kalo gak ya gak papa
Let's enjoy~


******

Perkenalkan, namaku Kendy. Disini aku pekerja perempuan pertama yang bekerja di toko boneka. Entah kenapa, semua pekerja di sini adalah laki laki. Tapi, tak apa. Mereka semua tetap menghormatiku walau aku seorang diri. Mereka juga selalu mendengarkan ceritaku saat aku bermain bersama sahabatku.

Oh, dan juga. Aku akan menceritakan kepada kalian tentang sahabatku. Namanya Dinda. Dia adalah sahabatku sejak kami masih di bangku sekolah menengah pertama. Tapi, dia itu pendiam dan selalu mengurung diri, tapi tidak jika dia sedang bermain denganku. Dia juga tak memiliki kerabat seorangpun, entah karena apa. Aku tak ingat.

Jadi, aku membawa Dinda untuk tinggal di gubuk kecil di belakang rumahku. Sebenarnya aku ingin mengajaknya ke rumahku, tapi dia selalu menolak mentah-mentah tawaranku. Mungkin karena dia takut jika aku selalu mengajaknya bermain dan tak membiarkannya istirahat.

Tapi tak apa. Saat aku berangkat kerja, aku selalu menyuruhnya untuk berdiam diri di rumahku. Tidak di gubuk itu, karena aku takut jika terjadi sesuatu saat aku pergi. Saat aku pulang pun, dia selalu yang lebih awal mulai bermain.

Malam ini, aku akan segera pulang dan menemuinya untuk segera bermain. Saat sampai di rumah, aku selalu menanggilnya. Jika dia tidak menyahutinya, berarti dia sudah memulai permainan itu. Petak Umpet.

Saat aku berjalan menuju arah dapur, aku melihatnya memegang pisau dan berancang ancang menusukkannya di dada kirinya. 

"Dinda~" panggilku dengan suara lembut yang ku miliki. Dia pun menoleh dengan wajahnya yang sembab karena menangis dan beberapa hal kecil. Ihihi...

Aku berjalan menghampirinya dan mengambil pisau yang di genggamnya. Dan berkata...


"Kau mau bersenang senang sendiri tanpa menungguku?"

******

Selesai sudah ceritanya. Semoga suka.

Sekian, terimakasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Apa itu Efek Dunning-Kruger? Merasa Paling Tahu Padahal Salah? Bisa Jadi kamu Terjebak Fenomena Ini

Pernah ketemu orang yang sok tahu banget, padahal salah? Atau jangan-jangan kalian salah satu dari mereka yang pernah ngerasain paling jago ...